MAKALAH
ORGANISASI SOSIAL
Di Susun oleh Kelompok :
1.
Aim
Printing
SMA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga
kami dapat menyelesaikan Makalah ini dengan judul “ORGANISASI SOSIAL”. Makalah
ini dibuat dalam rangka memenuhi salah satu Tugas dari mata pelajaran di SMA
Plus NU Panguragan.
Sesuai dengan
judul, makalah ini mengulas tentang bagaimana pendekatan sosiologi terhadap
kelompok sosial, bagimana tipe-tipe keompok sosial, bagaimana kelompok-
kelompok sosial yang tidak teratur, dan bagaimana kelompok (mayarakat setempat,
masyarakat desa, masyarakat perkotaan dan masyarakat kecil).
Kami menyadari
bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan, oleh sebab itu kami akan sangat
bertetima kasih sekirahnya mendapatkan masukan-masukan untuk penyempurnaannya,
terutama kami sangat berharap sumbang saran dari Bapak/Ibu Guru mata pelajaran ini.
Atas masukan - masukannya kami ucapkan terima kasih.
Cirebon, Agustus 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................. i
DAFTAR ISI ................................................................................................................... ii
BAB I PENDAGULUAN ....................................................................................................... 1
Latar
Belakang ................................................................................................................... 1
A.
Pengertian Organisasi Sosial ..................................................................................... 1
B.
Unsur-Unsur Organisasi Sosial .................................................................................. 2
C.
Jenis-Jenis Organisasi Sosial ..................................................................................... 2
D.
Tipe-Tipe Organisasi Sosial ....................................................................................... 3
E.
Organisasi Sosial Masyarakat .................................................................................... 3
BAB III PENUTUP.................................................................................................................. 4
Kesimpulan
......................................................................................................................... 4
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................... 5
BAB I PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Manusia pada umumnya dilahirkan
seorang diri, namun dalam kehidupannya harus berkelompok atau bermasyarakat.
Manusia tidak dapat berdiri sendiri namun tergantung pada orang lain. Manusia
tanpa manusia lainnya pasti akan mati. Dalam hubungannya dengan manusia lain
manusia berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dan orang lain, karena
manusia mempunyai naluri untuk selalu hidup dengan orang lain (gregariausness).
Manusia menurut kodratnya itu
dilahirkan untuk menjadi bagian dari suatu kebulatan masyarakat. Dengan
demikian manusia itu merupakan bagian dari suatu organisi sosial. Perhatikanlah
kehidupan sehari - hari. Hampir semua kegiatan manusia dilakukan dalam
kaitannya dengan orang lain dan daam kehidupan bersama dengan manusia lainnya.
Landasan dari adanya hasrat untuk
selalu berada dalam kesatuan dengan orang lain adalah untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan yang mendasar dan kebutuhan sosial
maupun kebutuhan intergratif. Oleh karena manusia memiliki kebutuhan yang
beraneka ragam, dan cara-cara yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan itupun
bermacam-macam pula, maka manusia menentukan bentuk kehidupan sosial tertentu
di tempat ia hidup dengan sebaik-baiknya.
Manusia sejak dilahirkan sudah
mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok yaitu; 1) Keinginan untuk menjadi
satu dengan manusia lain di sekelilingnya yaitu masyarakat dan 2) Keinginan
untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.
BAB II PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
ORGANISASI SOSIAL
Organisasi sosial dalam
antropologi sosial secara garis besar meliputi:
1.
Penyelidikan organisasi sosial dengan
menggunakan metode biografi, yaitu penyelidikan yang meneliti kejadian-
kejadian khusus yang berhubungan dengan krisis-krisis kehidupan (rites of passage).
Dalam pendekatan ini umur dalam arti bahwa jangka waktu hidup manusia itu
mengikuti siklus biologi tertentu merupakan faktor yang menjadi landasan
penyusunan organisasi sosial.
2.
Penyelidikan organisasi sosial dengan
menggunakan pendekatan yang berpusat pada hubungan antar individu dengan
memakai metode genealogis. Dengan mempelajari hubungan antar individu yang
khusus disebabkan kekerabatan, yang kemudian dapat dikembangkan pada studi
tentang pola-pola social yang lebih besar. Dalam studi mengenai organisasi
sosial seperti ini dapat diteliti tentang konsep perkawinan, keluarga dan
sistem kekerabatan.
3.
Penyelidikan organisasi sosial dengan
menggunakan pendekatan yang perpusat pada lembaga-lembaga, sejauh manakah
lapisan-lapisan sosial seperti kelas, kasta, rank dan bagaimana kepemimpinan
dalam suatu masyarakat.
JBAF Maijor
Polak (1985: 254) mengemukakan bahwa organisasi sosial dalam arti sebagai
sebuah asosiasi adalah sekelompok manusia yang mempunyai tujuan tertentu,
kepentingan tertentu, menyelenggarakan kegemaran tertentu atau minat-minat
tertentu.
Soerjono Soekanto (1988: 107-108)
mengemukakan organisasi sosial adalah kesatuan-kesatuan hidup atas dasar
kepentingan yang sama dengan organisasi yang tetap sebagai sebuah asosiasi.
Berdasarkan pengertian
di atas, maka dapat disimpulkan bahwa organisasi sosial berdasarkan pendekatan
sosiologi adalah organisasi social sebagai sebuah asosiasi, yaitu sekelompok
manusia yang mempunyai tujuan, kepentingan, kegemaran, minat yang sama dan
membentuk sebuah organisasi yang tetap.
B.
UNSUR
- UNSUR ORGANISASI SOSIAL
Organisasi sosial sebagai suatu
asosiasi mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:
1.
Sekelompok orang yang mempunyai tujuan tertentu,
kepentingan tertentu, kegemaran tertentu atau minat- minat tertentu
2.
Adanya norma atau aturan-aturan tertentu yang
mengikat
3.
Hubungan atrar individu
4.
Adanya kesadaran individu sebagai anggota
organisasi social
5.
Bentuk organisasinya formal atau non formal
C.
JENIS
- JENIS ORGANISASI SOSIAL
Jenis - jenis organisasi sosial
sebagai berikut:
Menurut Soerjono Soekanto
(107-108) organisasi sosial sebagai suatu asosiasi mempunyai dua arti, yaitu:
1.
Dalam arti khusus/sempit mempunyai cirri - ciri
antara lain
a) Adanya
kepentingan-kepentingan terbatas
b) Organisasi
sosial tertentu
c) Jumlah
keanggotaan sangat terbatas
d) Pentingnya
hubungan tidak bersifat pribadi jenis kepentingan yang dikejar terbatas
Contoh: keluarga,
kelompok permainan, club
2.
Dalam arti luas/besar mampunyai cirri - ciri
antara lain:
a) Adanya
anggota yang secara relatif terbatas
b) Organisasi
sosial yang formal
c) Pentingnya
hubungan sosial tidak bersifat pribadi
d) Jenis
kepentingan yang dikejar lebih luas
Contoh:
Negara, persekutuan agama, perkumpulan ekonomi, persatuan buruh, organisasi
massa, dsb
Menurut JBAF
Maijor Polak (262-263) membagi organisasi sosial ke dalam beberapa bidang dan
jenis asosiasi, antara lain:
a.
Persahabatan, misalnya club (Club Jantung Sehat
Indonesia),
b.
Ekonomis, misalnya perseroan (Perseroan
Terbatas), firma (CV),
c.
Teknologi dan ilmu pengetahuan, misalnya badan ilmiah
(Batan, LIPI),
d.
Agama, misalnya NU, Muhammadiyah, LDII, Hizbuth
Thahrir),
e.
Kesenian, misalnya orkes atau grup band (Soneta,
Peterpen, ST 12, Ada Band
f.
Pendidikan, misalnya sekolah (TK/RA, SD/MI,
SMP/Mts, SMA/MA),
g.
Olah raga, misalnya ISSi, PBSI, PBVSI, PABSI,
PASI, IMI),dsb
D.
TIPE
- TIPE ORGANISASI SOSIAL
Tipe - tipe Organisasi atau kelompok sosial dapat
diklasifikasikan dari beberapa, sudut atau atas dasar berbagai kriteria atau
ukuran. Seorang sosiolog Jerman Georg Simmel, mengambil ukuran besar - kecilnya
jumlah anggota kelompok, bagaimana individu mempengaruhi kelompoknya serta
intraksi sosial dalam kelompok tersebut. Dalam analisisnya mengenai kelompok
sosial mulai dengan bentuk terkecil yang terdiri satu orang sebagai fokus
hubungan sosial yang kemudian dikembangkan dengan kelompok yang terdiri dari
dua atau tiga orang dan kemudian dikembangkan dengan kelompok yang lebih besar.
Ukuran lain yang diambil adalah atas dasar derajat
interaksi sosial dalam kelompok sosial. Beberapa sosiolog memerhatikan pembagian
atas dasar kelompok dimana anggotanya saling mengenal (face-to-face groupings),
seperti keluarga, rukun tetangga dan desa, dengan kelompok- kelompok sosial
seperti kota, dan negara, dimana anggotanya tidak mempunyai hubungan erat.
Berlangsungnya suatu kepentingan merupakan ukuran lain
bagi klasifikasi tipe-tipe sosial. Suatu kerumunan misalnya, merupakan kelompok
yang hidupnya sebentar saja karena kepentingannyapun tidak berlangsung lama.
Lain halnya dengan kelas atau komuniti yang kepentingan secara relatif bersifat
tetap atau permanen.
Dalam membicarakan kelompok sosial, haruslah dihindari
paham prasangka bahwa kelompok sosial merupakan lawan individu, kedua hanya
dapat dimengerti bila dipelajari di dalam hubungan antara yang satu dengan yang
lain sebagai pasangan. Pengertian tersebut sangat penting untuk mencegah
terjadinya pendapat yang menyatakan bahwa bentuk kelompok sosial merupakan
ancaman terhadap kesejahteraan individu. kan bahwa bentuk kelompok sosial
merupakan ancaman terhadap kesejahteraan individu. Harus dihindari prasangkah
bahwa kelompok-kelompok sosial semata-mata ditimbulkan oleh naluri manusia
untuk selalu hidup sesama. Kelompok sosial ini merupakan bentuk kehidupan
nyata. ePrilaku kelompok sosial harus dilihat dari sudut pandang sebagai
prilaku individu.
Faktor-faktor yang membedakan kelompok-kelompok adalah:
1.
Kesadaran akan jenis yang sama
2.
Adanya hubungan social
3.
Orientasi pada tujuan yang sudah ditentukan.
E.
ORGANISASI
SOSIAL MASYARAKAT
Organisasi sosial masyarakat adalah dimana terdapat
suatu struktur organisasi dan suatu faktor, yang dimiliki bersama oleh anggota
- anggota kelompok - kelompok itu, sehingga hubungan antara mereka bertambah
erat. Faktor - faktor itu yang terdiri dari dimana merupakan nasib yang sama,
kepentingan yang sama, ideologi yang sama, politik yang sama. Hal ini merupakan
ikatan yang bersifat pokok untuk jangka waktu tertentu.
Manusia harus berhubungan dengan manusia lain dalam
kondisi emosional dan psikis dimana amat dipengaruhi oleh relasi sosial. Dengan
kata lain seseorang itu pada satu ketika menjadi susah atau bergembira dan
riang hatinya, disebabkan oleh pengaruh sikap penilaian, anggapan - anggapan
yang diterima oleh orang lain. Dari sinilah jelas bahwa bagi kesejahteraan
badan dan rohaniahnya, manusia bersama - sama harus menciptakan satu kondisi
sosial yang harmonis.
Kodrat alamiah manusia sebagai makhluk social - psikis
itu menyebabkan timbulnya bentuk-bentuk dari organisasi dan relasi antara
manusia, yang terdiri dari dua landasan yaitu;
1.
Organisasi symbiotik yang terdiri semata-mata
atas tingkah laku fisik yang bersifat otomatis.
2.
Organisasi sosial yang berdiri atas komunikasi
dengan menggunakan sistem lambang.
Selanjutnya
apabila kita pelajari kehidupan sosial manusia, maka tampak adanya kenyataan yang
tidak dapat diingkari.
1.
Bahwa manusia individu atau kelompok berusaha
sekeras - kerasnya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan mendapatkan
jaminan keamanan dan jika mungkin mencapai satu tingkat kemakmuran yang
diingingkan.
2.
Bahwa untuk mendapatkan kondisi yang esensial
bagi kelangsungan hidup dan keamanan, diperlukan adanya ketertiban sosial dalam
derajat yang tinggi.
3.
Bahwa untuk mencapai derajat ketertiban sosial
yang tinggi itu diperlukan adanya satu tata pengaturan sosial kultur serta
mekanisme yang dapat digunakan bagi pelaksanaan pengaturan itu.
Adapun
pengaturan dari pada tata - hubungan jika ada dua orang atau lebih yang hendak
mengadakan hidup bersama memerlukan beberapa syarat yaitu;
1.
Harus ada ukuran yang tetap dalam tata hubungan
sosial yang dapat iterima oleh anggota - anggota kelompok,
2.
Harus ada kekuasaan atau otoritas yang mempunyai
kekuasaan memaksa dalam melaksanakan tata - hubungan sosial,
3.
Adanya pengaturan dan penyusunan individu -
individu dalam kelompok - kelompok dan lapisan sosial tertentu yang
mengambarkan adanya koordinasi dan subkordinasi,
4.
Anggota - anggota yang hidup dalam berbagai
bidang, dapat hidup dalam suasana harmoni, yang saling memberi kekuasaan,
5.
Adanya tingkah laku yang merupakan standar dan
telah disalurkan atau dipaksakan dengan mekanisme tekanan - tekanan sosial,
yang menjadi satu pola yang merupakan pedoman bagi tingkah laku manusia.
BAB III PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Seorang sosiolog didalam menelaah masyarakat
manusia akan banyak berhubungan dengan organisasi sosial,
Tipe-tipe
organisasi sosial dapat diklasifikasikan dari beberapa, sudut atau atas dasar
berbagai kriteria atau ukuran. tipe-tipe kelompok sosial dapat dikategorikan
dalam struktur sosial seperti:
1.
Organisasi sosial dipandang dari sudut individu
2.
In-group dan out-group
3.
Kelompok primer (primary group) dan kelompok
skunder (secondary group)
DAFTAR PUSTAKA
1.
Geetz,
Hildred. 1983. Keluarga Jawa,
Jakarta: PT. Temprint
2.
Koentjaraningrat.
2009. Pengantar Ilmu Antropologi,
Jakarta: PT Rineka Cipta
3.
Koentjaraningrat.
2007. Manusia dan Kebudayaan di
Indonesia, Jakarta: Djamban
Tidak ada komentar:
Posting Komentar